Selasa, 27 Desember 2011

Laporan Pendahuluan Post partum sectio sesaria

Laporan Pendahuluan
Post partum sectio sesaria

Sectio sesaria


I.      Pengertian
Section sesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomia untuk melahirkan  janin dari dalam rahim.

II.      Jenis-jenis operasi SC
1. Abdomen (section sesaria abdominalis)
a.       SC Transperitonealis
o   SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada korpus uteri.)

Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus  uteri kira-kira 10 cm.
Kelebihan:
ü  Mengeluarkan janin dengan cepat
ü  Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik
ü  Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
Kekurangan:
ü  Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonialis yang baik.
ü  Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan.

o   SC Ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim.)
Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical tranversal) kira-kira 10 cm.
Kelebihan :
à Penjahitan luka lebih mudah
à Penutupan luka dengan reperitonialisasi yang baik
à Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebarab isi uterus ke rongga peritoneum.
à Perdarahan tidak begitu banyak.
à Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang/lebih kecil.
Kekurangan :
à Luka dapat meleber kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan arteri uterine pacah sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak.
à Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi

b.      SC ekstraperitonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal.

2. Vagina (section sesaria vaginalis)
Menurut sayatan pada rahim , SC dapat dilakukan sb:
  • Sayatan memanjang (longitudinal)
  • Sayatan melintang (transversal0
  • Sayatan huruf T (T insicion)

III.      Indikasi
Operasi SC dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC
Proses persalinan normal lama/kegagalan proses persalinan normal (dystasia)
  • Fetal distress
  • His lemah/melemah
  • Janin dalam posisi sungsang atau melintang
  • Bayi besar (BBL ≥ 4,2 kg)
  • Plasenta previa
  • Kelainan letak
  • Disproporsi cevalo-pelvik (ketidakseimbangan anatar ukuran kepala dan panggul)
  • Rupture uteri mengancam
  • Hydrocephalus
  • Primi muda atau tua
  • Partus dengan komplikasi
  • Panggul sempit
  • Problem plasenta

IV.      Komplikasi
Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain:
1.      Infeksi puerperal (nifas)
"  Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari
"  Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dehidrasi dan perut sdikit kembung
"  Berat, peritonitis, sepsis dan usus paralitik.
2.      Perdarahan
"  Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka
"  Perdarahan pada plasenta bed
3.      Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonialisasi terlalu tingi
4.      Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya.


V.      Pengkajian
1)      Sirkulasi
Perhatikan riwayat masalah jantumg, udema pulmonal, penyakit vaskuler perifer atau stasis vaskuler (peningkatan resiko pembentukan thrombus).
2)      Intregritas ego
Perasaan cemas, takut, marah, apatis, serta adanya fakto-faktor stress multiple seperti financial, hubungan, gaya hidup. Dengan tanda-tandatidak dapat beristirahat, peningkatan ketegangan, stimulasi simpatis.
3)      Makanan/cairan
Malnutrisi, membrane mukosa yang keringàpembatasn puasa pra operasi insufisiensi pancreas/DMàpredesposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis.
4)      Pernapasan
Adanya infeksi, kondisi yang kronik/batuk, merokok
5)      Keamanan
v  Adanya alergi atau sensitive terhadap obat, makanan, plester dan larutan
v  Adanya defisiensi imun
v  Munculnya kanker/adanya terapi kanker
v  Riwayat keluarga, tentang hipertermia malignan/ reaksi anestesi
v  Riwayat penyakit hepatic
v  Riwayat tranfusi darah
v  Tanda munculnya proses infeksi
VI.      Prioritas keperawatan
-        Mengurangi ansietas dan trauma  emosional
-        Menydiakan keamanan fisik.
-        Mencegah komplikasi
-        Meredakan rasa sakit
-        Memberikan fasilitas untuk proses kesembuhan
-        Menyediakan informasi mengenai proses penyakit

VII.      Diagnosis keperawatan
  Ansietas b.d. pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan.
  Resti infeksi b.d. destruksi pertahanan terhadap bakteri
  Nyeri akut b.d. insisi, flatus, dan mobilitas
  Resti perubahan nutrisi b.d. peningkatan kebutuhan untuk penyembuhan luka, penurunan masukan (sekunder akibat nyeri, mual, muntah)
VIII.      Intervensi
DP
tujuan
intervensi
Rasional
Ansietas b.d. pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan.















Resti infeksi b.d. destruksi pertahanan terhadap bakteri











Nyeri akut b.d. insisi, flatus, dan mobilitas













Resti perubahan nutrisi b.d. peningkatan kebutuhan untuk penyembuhan luka, penurunan masukan (sekunder akibat nyeri, mual, muntah)


Ansietas berkurang setelah diberikan perawatan dengan criteria hasil:
-     Tidak menunjukan trumatik pada saat membicarakan pembedahan
-     Tidak tampak gelisah
-     Tidak merasa takut untuk dilakukan pembedahan yang sama.
-     Pasien merasa tenang

Infeksi tidak terjadi setelah perawatan 24 jam pertama dengan criteria
-     Menunjukan kondisi luka yang jauh dari kategori infeksi
-     Albumin dalam keadaan normal
-     Suhu tubuh pasien dalam keadaan normal, tidak demam

Nyeri dapat berkurang setelah perawatan 1 x 24 jam dengan criteria:
-     Pasien tidak mengeluh nyeri / mengatakan bahwa nyeri sudah berkurang







Mendemonstrasikan berat badan stabil atau penambahan berat badan progresif kearah tujuan dengan normalisasi nilai laboratorium dan bebas dari tanda malnutrisi
-     Lakukan pendekatan diri pada pasien supaya psien merasa nyaman
-     Yakinkan bahwa pembedahan merupakan jalan terbaik yang harus ditempuh untuk menyelamatkan bayi dan ibu







-     Berikan nutrisi yang adekuat
-     Berikan penkes untuk menjaga daya taahan tubuh, kebersihan luka, serta tanda-tanda infeksi dini pada luka




-     Lakukan pengkajian nyeri
-     Lakukan managemen nyeri
-     Monitoring keadaan insisi luka post operasi
-     Ajarkan mobilitas yang memungkinkan tiap 2 jam sekali

-     Kaji status nutrisi secara continue selama perawatan tiap hari, perhatikan tingkat energi, kondisi kulit, kuku, rambut, rongga mulut.
-     Tekankan pentingnya transisi pada pemberian makan per oral dengan tepat.
-     Beri waktu mengunyah, menelan, beri sosialisasi dan bantuan makan sesuai indikasi

-     Rasa nyaman akan menumbuhkan rasa tenang, tidak cemas serta kepercayaan pada perawat.












-     Nutrisi yang adekuat akan menghasilkan daya tahan tubuh yang optimal
-     Dengan adanyapartisipasi dari pasien, maka kesembuhan luka dapat lebih mudah terwujud


-     Setiap skala nyeri memiliki managemen yang berbeda.
-     Antisipasi nyeri akibat luka post operasi
-     Mobilitas dapat merangsang peristaltic usus sehingga mempercepat flatus



-     Memberi kesempatan untuk mengobservasi penyimpangan dari normal/dasar pasien dan mempengaruhi pilihan intervensi
-     Transisi pemberian makan oral lebih disukai.
-     Pasien perlu bantuan untuk menghadapi masalah besar anoreksia, kelelahan, kelemahan otot


Referensi

Doenges, M E. 2000. Rencana Askep Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokmentasian Perawatan Pasien. Jakarta:EGC
Carpenito L. J. 2001. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC
Winkjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Photobucket